Perubahan Lingkungan


Perubahan dalam dua atau tiga abad terakhir saja oleh ulah manusia melebihi perubahan-perubahan di masa sebelumnya. Manusia membangun “kota” —pun dalam pengertian yang sangat sederhana— baru beberapa ribu tahun saja sebelum masehi, terutama di tempat-tempat “cradles of civilizations” (China, India, kawasan di sekeliling Laut Tengah). Alangkah tidak berartinya beberapa ribu tahun dibandingkan umur manusia yang beberapa puluh ribu tahun manusia modern, beberapa ratus ribu tahun manusia purba, atau beberapa puluh juta tahun dinosaurus.

Ketika kota-kota mulai berkembang pesat, pada masa yang disebut “axial age”, terjadi kegelisahan spiritual di semua tempat lahir peradaban itu, yaitu sepanjang beberapa abad sejak setengah milenium sebelum Masehi sampai akhirnya muncul agama-agama wahyu (agama-agama Abrahamik). Kekayaan pengalaman dan perenungan spiritual ini terjadi bukannya tanpa sumbangsih dari “kekotaan”. Ialah kepadatan hubungan-hubungan dan pertukaran-pertukaran segala hal, yang terus menerus membuka hubungan-hubungan dan pertukaran-pertukaran baru pula, menimbulkan begitu besar ketidakpastian dan begitu banyak pertanyaan. Buddhisme lahir dari kelana Siddharta di kota-kota di India Utara. Filsafat Yunani muncul dari simposium-simposium (yang semata-mata berarti ngobrol sambil makan-minum) di hunian-hunian kota. Konfusius berpikir dalam kerangka etika sosial yang menjadi penting dan mendesak ketika kekotaan memuncakkan kepadatan hubungan-hubungan sosial.

Proses produksi dan konsumsi mulai mendorong eksploitasi lingkungan yang tidak kepalang. Eksploitasi ini mengandung pula ketidak-adilan, menyerap sumber daya alam dari tempat jauh, dan pada saat yang sama menyebarkan pengetahuan juga ke sana.

Hindia Belanda mengalami ledakan penduduk perkotaan besar di akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Setelah menjadi Indonesia, sesudah Perang Dunia ke-2, terjadi lagi perpindahan penduduk dari desa ke kota besar-besaran, sehingga Jakarta bahkan mengalahkan Surabaya, yang sebelumnya lebih besar dalam hal jumlah penduduk.

Perubahan lingkungan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan. Perubahan yang terjadi pada lingkungan hidup manusia menyebabkan adanya gangguan terhadap keseimbangan karena sebagian dari komponen lingkungan menjadi berkurang fungsinya. Perubahan lingkungan dapat terjadi karena campur tangan manusia dan dapat pula karena faktor alami. Dampak dari perubahannya belum tentu sama, namun akhirnya manusia juga yang mesti memikul serta mengatasinya.
1. Perubahan Lingkungan karena Campur Tangan Manusia
Perubahan lingkungan karena campur tangan manusia contohnya penebangan hutan, pembangunan pemukiman, dan penerapan intensifikasi pertanian.

Penebangan hutan yang liar mengurangi fungsi hutan sebagai penahan air. Akibatnya, daya dukung hutan menjadi berkurang. Selain itu, penggundulan hutan dapat menyebabkan terjadi banjir dan erosi. Akibat lain adalah munculnya harimau, babi hutan, dan ular di tengah pemukiman manusia karena semakin sempitnya habitat hewan-hewan tersebut.

Pembangungan pemukiman pada daerah-daerah yang subur merupakan salah satu tuntutan kebutuhan akan pagan. Semakin padat populasi manusia, lahan yang semula produktif menjadi tidak atau kurang produktif.

Pembangunan jalan kampung dan desa dengan cara betonisasi mengakibatkan air sulit meresap ke dalam tanah. Sebagai akibatnya, bila hujan lebat memudahkan terjadinya banjir. Selain itu, tumbuhan di sekitamya menjadi kekurangan air sehingga tumbuhan tidak efektif melakukan fotosintesis. Akibat lebih lanjut, kita merasakan pangs akibat tumbuhan tidak secara optimal memanfaatkan CO2, peran tumbuhan sebagai produsen terhambat.

Penerapan intensifikasi pertanian dengan cara panca usaha tani, di satu sisi meningkatkan produksi, sedangkan di sisi lain bersifat merugikan. Misalnya, penggunaan pupuk dan pestisida dapat menyebabkan pencemaran. Contoh lain pemilihan bibit unggul sehingga dalam satu kawasan lahan hanya ditanami satu macam tanaman, disebut pertanian tipe monokultur, dapat mengurangi keanekaragaman sehingga keseimbangan ekosistem sulit untuk diperoleh. Ekosistem dalam keadaan tidak stabil. Dampak yang lain akibat penerapan tipe ini adalah terjadinya ledakan hama.

2. Perubahan Lingkungan karena Faktor Alam
Perubahan lingkungan secara alami disebabkan oleh bencana alam. Bencana alam seperti kebakaran hutan di musim kemarau menyebabkan kerusakan dan matinya organisme di hutan tersebut. Selain itu, terjadinya letusan gunung menjadikan kawasan di sekitarnya rusak.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s