jenis – jenis katarak


    1. Katarak Kongenital

      katarak

      katarak

2. Disisio Lentis
tindakan bedah pada disisio lentis adalah deng

    1. an menusuk atau merobek kapsul anterior lensa dengan harapan badan lensa yang cair keluar. Bahan lensa yang keluar akan mengalir bersama cairan mata(aquous humor) atau difagositosis oleh makrofag. Setelah terjadi absorbsi sempurna, maka mata menjadi afakia atau tidak mempunyai lensa lagi.
    2. Ekstraksi Linear
      Ekstraksi Linear dibuat insisi pada kornea dan dilakukan robekan pada kapsul anterior lensa. Dimasukkan sendok Daviel kedalam bilik mata atau lensa kemudian lensa dibersihkan dari bahan lensa yang berada didalam kapsul. Pada saat sekarang untuk mengeluarkan badan lensa dapat dilakukan dengan aspirasi. selanjutnya luka kornea dapat dijahit kemnali. Bila ada bahan lensa yang masih tertinggal diharapkan seperti pada disisio lentis yaitu sisa lensa ini akan keluar bersama cairan mata dan difagsitosis.

Penanganan :

Katarak kongenital harus dilakukan operasi/bedah.
Pencegahan :

Pada katarak kongenital total makula ini tidak boleh mendapat rangsangan. Makula ini tidak akan berkembang sempurna hingga walaupun dilakukan ekstraksi katarak maka visus biasanya tidak akan mencapai 5/5. Hal ini disebut ambliopia sensoris (amblyopia ex anopsia). Katarak kongenital dapat menimbulkan komplikasi lain berupa nistagmus dan strabismus. Serta pada bedah disisio lentis ini harus menghindari terjadinya uveitis atau glaukoma sekunder. Bila bahan lensa tidak diabsobsi sempurna maka akan terbentuk katarak sekunder. pada menghindari terjadinya uveitis, glaukoma dan katarak sekunder.
Pengobatan :

Katarak Kongenital dapat diobati dengan cara melakukan operasi/bedah. Operasi katarak kongenital dilakukan bila reflek fundus tidak tampak. Biasanya bila katarak bersifat total, operasi dapat dilakukan pada usia 2 bulan atau lebih atau bila telah dapat dilakukan pembiusan.
Tindakan Operasi katarak kongenital yaitu : Disisio atau ekstraksi linear dan ektraksi dengan fakoemulsifikasi.
Pda umumnya tindakan bedah / operasi dilakukan dengan disisio lentis atau ekstraksi linear. Tndakan bedah ini biasa dilakukan pada usia 2 bulan untuk mencegah ambliopia eksanopsia. Pasca bedah pasien memerlukan koreksi untuk kelainan refraksi matanya yang telah menjadi afakia.

Keterangan :

Katarak kongenitalis adalah katarak yang ditemukan pada bayi ketika lahir (atau beberapa saat kemudian). Katarak kongenitalis bisa merupakan penyakit keturunan (diwariskan secara autosomal dominan) atau bisa disebabkan oleh: – Infeksi kongenital, seperti campak Jerman – Berhubungan dengan penyakit metabolik, seperti galaktosemia. Faktor resiko terjadinya katarak kongenitalis adalah: – penyakit metabolik yang diturunkan – riwayat katarak dalam keluarga – infeksi virus pada ibu ketika bayi masih dalam kandungan. Katarak Kongenital adalah katarak yang telah timbul sejak lahir. Katarak Kongenital dianggap sering ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu yang menderita penyakit misalnya diabetes melitus. Kekeruhan pada katarak kongenital dijumpai dalam berbagai bentuk dan gambaran morfologik. Congenital, merupakan katarak yang terjadi sejak bayi lahir dan berkembang pada tahun pertama dalam hidupnya. Jenis katarak ini sangat jarang terjadi.

  1. Katarak Traumatik

    1. Cetakan pupil pada lensa akibat trauma tumpul yang berbentuk vossious ring yaitu lingkaran yang terbentuk oleh granula coklat kemerah-merahan dari pigmen iris dengan garis tengah kurang lebih 1 mm. Secara normal ia menjadi padat sesudah trauma. Cincin vossious cenderung untuk menghilang sedkit demi sedikit. Kekeruhan kapsul yang kecil-kecil dan tersebar dapat ditemui sesudah menghilangnya pigmen.
    2. Katarak berbentuk roset; bentuk ini dapat terjadi segera sesudah trauma tetapi dapat juga beberapa minggu sesudahnya. Trauma tumpul Mengakibatkan perubahan susunan serat-serat lensa dan susunan sisten suture (tempat pertemuan serat lensa) sehingga terjadi bentuk roset. Bentuk ini dapat sementara dan dapat juga menetap.
    3. Katarak traumata desiminata subepitel (ditemukan oleh Vogt) berbentuk kekeruhan yang bercak-bercak dan terletak dibawah lapisan epitel lensa bagian depan. Kadang-kadang kekeruhan ini bersifat permanen dan tidak progresif.
    4. Katarak Zonular dan lamelar, bentuk ini sering ditemukan pada orang muda yang sesudah trauma. Penyebabnya karena adanya perubahan per meabilitas kapsul lensa yang mengakibatkan degenerasi lapisan kortek supersial. Trauma tumpul akibat tinju atau bola dapat menyebabkan robekan kapsul, walaupun tampa trauma tembus mata. Bahan-bahan lensa dapat keluar melalui robekan kapsul ini dan bila diabsorbsi maka mata akan menjadi afakia.

Katarak akibat trauma tembus dapat dalam bentuk :

Laserisasi yaitu robekan pada kapsul lensa. Bila kapsul robek dan isi lensa bercampur dengan cairan aqueous dapat timbul katarak total.

    1. Katarak Sekunder

      1. Gejala Subyektif :Katarak sekunder dapat menyebabkan kemunduran tajam penglihatan.
      2. Gejala Obyektif : Tampak sebagai suatu masa tebal yang dapat terdiri atas kapsul anterior, kapsula posterior, masa lensa, cincin soemmering dan elschnig pearl. Cincin soemmering terjadi akibat kapsul anterior yang pecah dan beretraksi kearah pinggir dan melekat pada kapsula posterior meninggalkan daerah yang jernih ditengah, membentuk gambaran cincin. Pada pinggir cincin ini tertimbun serabut lensa dan epitel yang berproliferasi. Elschnig pearl adalah epitel subkapsuler yang berproliferasi dan membesar sehingga tampak sebagai busa sabun. Elschnig pearl ini mungkin akan menghilangkan dalam beberapa tahun oleh karena pecah dindingnya.
      3. Afakia adalah setiap keadaan dimana bahan lensa telah dikeluarkan maka akan ditemukan gejala mata yang tidak mempunyai lensa lagi atau afakia, seperti Iris tremulan atau iris bergoyang, Bilik mata dalam, Hipermetropia tinggi dan biasanya sampai +10,00 sampai dengan +12,00 Dioptri., Untuk membaca dekat diperlukan tambahan lensa +3,00 Dioptri.
      4. Lensa Intra Okuler adalah pada saat bedah katarak dilakukan penanaman lensa intraokular untuk afakia yang terjadi. Koreksi untuk mata afakia dapat memberikan beberapa keuntungan dan kerugian.
      5. Retinopati adalah suatu kelainan pada retina yang bukan merupakan peradangan. Retinopati dapat disebabkan diabetes melitus, hipertensi dan leukemia, arteriosklerosis dan proses degenerasi lainnya.

Penanganan : Katarak Sekunder ini harus dilakukan operasi/bedah.
Pencegahan : Menghindari trauma pada lensa mata yang dapat memecahkan lensa dan harus berhati-hati dalam beraktifitas (menjaga mata tetap baik).
Pengobatan : Katarak Sekunder ini dilakukan operasi/bedah dengan cara irigasi, disisio, kapsulotomi atau whole membrane extraction. Pada pembadahan katarak sekunder terjadi akakibat sisa disisio lentis, ekstraksi linear dan ekstraksi kapsuler. Pada katarak sekunder yang menghambat masuknya sinar masuk kedalam bola mata atau mengakibatkan turunnya tajam penglihatan maka dilakukan disisio lentis sekunder atau kapsulotomi padakatarak sekunder tesebut.
Keterangan : Katarak Sekunder adalah istilah untuk semua bahan seperti kapsul lensa, sel epitel, serabut lensa, elemen fibrin sesudah suatu peradangan dan hasil degenerasi atau degenerasi lensa yang tertinggal sesudah suatu operasi katarak ekstra kapsuler atau sesudah suatu trauma yang memecah lensa. Katarak yang disebabkan oleh konsumsi obat seperti prednisone dan kortikosteroid, serta penderita diabetes. Katarak diderita 10 kali lebih umum oleh penderita diabetes daripada oleh populasi secara umum.

Gambaran Klinik :

Pada pembedahan katarak sekunder ini harus hati-hati apabil tidak ingin terjadi beberapa kesalahan berupa :

    1. Katarak Senil

      1. Uji Anel Positif, dimana tidak terjadi obstruksi fungsi ekskresi saluran lakrimal sehingga tidak ada dakriosistitis.
      2. Tidak ada infeksi diesekitar mata seperti keraitis, konjungtivitis, blefaritis, hordeolum dan kalazion
      3. Tekanan bola mata normal dan tidak ada glaukoma
      4. Tekanan darah sistolik 160 mmHg dan diastolik 100mmHg.
      5. Gula darah telah terkontrol.
      6. Tidak batuk terutama pada saat pembedahan.
      7. Dibuat flep konjungtiva dari jam 9-3 melalui jam 12.
      8. Dilakukan pungsi bilik mata depan dengan pisau.
      9. Luka kornea diperlebar seluas 160 derajat.
      10. Dibuat indektomi untuk mencagah glaukoma blokade pupil pasca bedah.
      11. Dibuat jahitan korneosklera
      12. Lensa dikeluarkan dengan krio.
      13. Jahitan kornea dieratkan dan ditambah.
      14. Flep konjungtiva dijahit
      15. Kapsul lensa pecah sehingga lensa tidak dapat dikeluarkan bersama-sama kapsulnya. Pada keadaan ini terjadi ekstraksi lensa ekstrakapsular tanpa rencana karena kapsul posterior akan tertingal.
      16. Prolaps badan kaca pada saat lensa dikeluarkan.
      17. Teknik yang masih baik untuk mengeluarkan lensa keruh yang mengganggu penglihatan.
      18. Teknik dengan ongkos rendah.
      19. Flep konjungtiva antara dasar dengan fornik pada limbus dibuat dari jam 10 sampai jam 2.
      20. Dibuat pungsi bilik mata depan.
      21. Melalui pungsi ini dimasukkan jarum untuk kapsulotomi anterior.
      22. Dibuat luka kornea dari jam 10-2.
      23. Nukleus lensa dikeluarkan.
      24. Sisa korteks lensa dilakukan irigasi sehingga tinggal kapsul poserior saja.
      25. Luka kornea dijahit.
      26. Flep konjungtiva dijahit.
        1. Proses pada nukleus Oleh karena serabut-serabut lensa yang terbentuk lebih dahulu selalu terdorong kearah tengah maka serabut-serabut lensa bagian tengah akan menjadi lebih padat(nulkeus), mengalami dehidrasi, penimbunan ion calcium(Ca)dan sklerosis. Pada nuleus ini kemudian terjadi penimbunan pigmen. Pada keadaan ini lensa kurang hipermetrop.
        2. Proses pada korteks Timbul celah-celah diantara serabut lensa, yang berisi air dan penimbunan ion Ca sehingga lensa menjdi lebih tebal, lebih cembung dan membengkak menjadi lebih miop.
        3. Katarak Insipien adalah katarak berupa bercak-bercak seperti baji dengan dasar di perifer dan daerah jernih diantaranya. Kekeruhan biasanya terletak di korteks anterior atau posterior. Kekeruhan ini mula-mulanya tampak bila pupil dilebarkan sedangkan pada stadium lanjut puncak baji dapat tampak pada pupil normal. Kekeruhan ini dapat menimbulkan poliopia oleh karena indeks refraksi yang tidak sama pada semua bagian lensa.
        4. Katarak Imatur adalah kekeruhan yang belum mengenai seluruh lapisan lensa, sehingga masih ditemukan bagian-bagian yang jernih. Pada keadaan ini dapat terjadi hidrasi korteks hingga lensa akan mencembung dan daya biasnya akan bertambah, yang memberikan miopisasi. Pencembungan lensa ini akan menyebabkan bilik depan mata akan menjadi lebih dangkal dan dapat memberikan penyulit glaukoma. Hal ini disebut katarak intumesen.
        5. Katarak Imatur adalah kekeruhan yang telah mengenai seluruh masa lensa. Kekeruhan ini biasanya terjadi akibat deposisi ion Ca yang menyeluruh.
        6. Katarak Hipermatur adalah katarak yang terjadi akibatkorteks yang mencair sehingga masa lensa ini dapat keluar melalui kapsul. Akibat pencairan korteks ini maka nukleus “tenggelam” kearah bawah (jam 6)(katarak morgagni). Lensa akan mengeriput. Akibat masa lensa yang keluar kedalam bilik mata depan maka dapat timbul penyulit berupa uveitis fakotoksik atau galukoma fakolitik.

Penyulit yang timbul adalah terdapat korteks lensa yang akan membuat katarak sekunder. Setelah itu harus melakukan tindakan Fakoemulsifikasi yaitu tindakan untuk mencegah astigmat pada bedah EKIK, maka luka dapat diperkecil dengan tindakan bedah fakoemulsifikasi. Pada tindakan fakoe ini lensa yang katarak di fragmentasi dan diaspirasi.
Keterangan :

Katarak Senil adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut, yaitu usia diatas 50 tahun. Katarak Senil juga katarak yang berkaitan dengan usia, merupakan jenis katarak yang paling umum. Berdasarkan lokasinya, terdapat 3 jenis katarak ini, yakni nuclear sclerosis, cortical, dan posterior subcapsular. Nuclear sclerosis merupakan perubahan lensa secara perlahan sehingga menjadi keras dan berwarna kekuningan. Pandangan jauh lebih dipengaruhi daripada pandangan dekat (pandangan baca), bahkan pandangan baca dapat menjadi lebih baik. Penderita juga mengalami kesulitan membedakan warna, terutama warna biru. Katarak jenis cortical terjadi bila serat-serat lensa menjadi keruh, dapat menyebabkan silau terutama bila menyetir pada malam hari. Posterior subcapsular merupakan terjadinya kekeruhan di sisi belakang lensa. Katarak ini menyebabkan silau, pandangan kabur pada kondisi cahaya terang, serta pandangan baca menurun. Penyebabnya sampai sekarang tidak deketahui secara pasti. Namun katarak senil ini terjadi karena :
Berdasarkan kekeruhan pada lensa maka katarak senil dibedakan atas :
Penanganan : Katarak Senil penanganannya harus dilakukan pembedahan atau operasi. Dan sebelumnya pasien dengan katarak yang akan dibedah dilakukan sebagai berikut :
Pencegahan : Tidak batuk terutama pada saat pembedahan/operasi.

Pengobatan : Katarak Senil pengobatannya dengan cara pembedahan/operasi dan tidak ada satupun obat yang dapat diberikan. Pembedahan ini dilakukan apabila tajam penglihatan sudah menurun sedemikian rupa sehingga mengganggu pekerjaan sehari-hari atau bila katarak ini meenimbulkan penyulit seperti galukoma. Tindakan bedah ini dilakukan bila telah ada indikasi bedah pada katarak senil, seperti katarak telah mengganggu pekerjaan sehari-hari walapun katarak belum matur, katarak matur, karena apabila telah menjadi hipermatur akan menimbulkan penyulit katarak hipermatur (uveitis atau glaukoma) dan katarak telah telah menimbulkkan penyulit seperti katarak intumesen yang menimbulkkan glaukoma. Terdapat dua pembedahan dalam katarak senil yaitu Dalam bentuk ekstraksi lensa intrakapsular dan ekstraksi lensa ekstrakapsular.
Ekstraksi Lensa Intrakapsular merupakan tindakan bedah yang umum dilakukan pada katarak senil. Lensa dikeluarkan bersama-sama dengan kapsul lensanya dengan memutus zonula zinn yang telah pula mengalami degenerasi.
Pada ekstraksi Lensa Intrakuapsuler dilakukan tindakan degan urutan sebagai berikut :
Penyulit pada saat pembedahan yang terjadi adalah : Bedah Ekstraksi lensa intrakapsular (EKIK) masih dikenal pada negara berekonomi rendah karena :Ekstraksi Lensa Ekstrakapsular, Pada ekstraksi lensa ekstrakapsular dilakukan tindakan sebagai berikut :
Penanganan : Pada Katarak Traumatik harus dilakukan operasi/bedah.
Pencegahan : Pada penderita katarak trauma ini harus hati-hati dalam bekerja atau menjalankan aktivitas dan menghindari perdarahan pada lensa, ablasi retina, uveitis atau salah letak lensa.
Pengobatan : Pada katarak trauma juga dilakukan operasi dan apabila tidak terdapat penyulit maka dapat ditunggu sampai mata menjadi tenang karena akibat pengaruh trauma tersebut. Jka terjadi pecahnya kapsul mengakibatkan gejala radang berat maka dilakukan aspirasi secepatnya agar keadaan uveitis tidak menimbulkan penyulit yang lebih berat. Dan bila terjadi seperti glaukoma, uveitis dan lain sebagainya maka segera dilakukan ekstraksi lensa. Penyulit uveitis dan glaukoma sering dijumpai pada orang usia tua. Pada beberapa pasien dapat berbentuk cincin soemmering pada pupil sehingga dapat mengurangi tajam pemglihatan. Keadaan ini dapat disertai perdarahan, ablasi retina, uveitis atau salah letak lensa.
Keterangan : Katarak Traumatik adalah katarak yang terjadi akibat trauma pada lensa mata. Katarak traumatik disebabkan oleh kecelakaan pada lensa mata. Trauma dapat berupa trauma tumpul atau trauma tajam.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s